Senin, 23 Desember 2013

Makalah Tentang Al-Qur'an

BAB I
PENDAHULUAN

Alhamdulillah,puji syukur senantiasa kita panjatkan kepada Allah SWT,berkat nikmat,taufiq dan hidayah-ny sehingga makalah ini bisa selesai.sholawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya.
Di Indonesia islam masuk dengan cara yang ramah,damai,dan tidak menggunakan kekerasan.Namun demikian belum semua orang yang mengaku islam benar-benar mengerti dan mengamalkan ajaran agamanya dengan baik dan benar.
Dalam rangka pegnembangan dakwah dan menjadikan umat islam mengerti secara mendalam tentang ajaran islam,maka didirikan pondok pesantren.Pondok pesantren merupakan satu-satunya lembaga pendidikan dan dakwah islam pada zaman sekarang sekaligus pendalaman agama bagi pemeluknya yang secara terarah.Pengajaran di pondok pesantren yang bersumber dari kitab salaf merupakan media pelestarian dan pengalaman ajaran islam ASWAJA.
            Dalam makalah ini kami akan menguraikan tentang relevansi ASWAJA dan isu-isu pada zaman moderen.













BAB II
PEMBAHASAN

A.      RELEVANSI ASWAJA PADA ZAMAN MODEREN
Ahlussunnah Wal Jama’ah atau kepanjangan dari ASWAJA merupakan istilah yang menjadi nama bagi golongan kaum muslimin yang memiliki kesamaan dalam beberapa prinsip dan memiliki kesepakatan dalam beberapa pandangan.Istilah tersebut datangnya dari kalangan ulama’ salaf  yang saleh,sebagaimana kaum muslimin yang mengikuti ajaran islam yang murni dan asli.
Relevansi ASWAJA di zaman moderen yaitu sesuatu yang berhubungan dengan ASWAJA di zaman sekarang.Banyak sekali amaliah-amaliah ASWAJA di zaman moderen ini.Ada beberapa amaliah yang mengenai keterkaitan islam ASWAJA di zaman moderen ini,antara lain:
1.         Tradisi Tahlilan
Tradisi tahlilan adalah sebuah tradisi ritual yang komposisi bacaannya terdiri dari beberapa ayat al-Qur’an,tahlil,tasbih,dan lain-lain.Hal tersebut kadang dilakukan secara bersama-sama kadang dilakukan sendirian.Tradisi ini termasuk tradisi islam ASWAJA di zaman moderen,dan mayoritas dilakukan oleh kalangan orang NU.[1]
2.         Tradisi Yasinan
Tradisi yasinan yaitu tradisi membaca surat yasin yang dilakukan secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri.Tradisi ini biasanya dilakukan setap malam jumat.Tradisi yasinan termasuk  tradisi islam ASWAJA di zaman sekarang.
3.         Tradisi Maulid Nabi
Setiap bulan robi’ul awal atau kalau orang jawa menyebutnya bulan maulid,mayoritas kaum muslimin diberbagai belahan dunia mengadakan perayaan maulid Nabi SAW.Dalam acara tersebut biasanya dibacakan sejarah dan biografi kehidupan Nabi SAW.Syeikh Ibnu Taimiyah berkata dalam kitabnya Iqtida’ al-Shirath al-Mustaqim:
Yang artinya; ’’Jadi mengagungkan maulid dan menjadikan sebagai tradisi tidak jarang dilakukan oleh sebagian orang,dan ia memperoleh pahala yang sangat besar,karena tujuannya baik serta sikapnya yang mengagungkan Rasulullah SAW sebagaimana telah aku jelaskan sebelumnya’’.[2]
4.         Tradisi Manaqiban dan Haul
Manaqiban dan haul adalah tradisi pembacaan biografi dan keutamaan para wali Allah yang menjadi panutan umat.Dalam acara tersebut diawali dengan surat al-Fatihah dan pahalanya dihadiahkan untuk para wali Allah tersebut,serta diselingi pembacaan ayat-ayat al-Qur’an dan zikir.Misalnya tradisi manaqiban Syeikh Abdul Qadir al-Jilaini,pendiri tareqat Qadiriyah.
Di sisi lain para ulama’ juga menjelaskan,bahwa dalam mengenang orang-orang saleh dapat menurunkan rahmat Allah.Al-Imam Sufyan bin Uyainah salah seorang ulama’ salaf dan guru al-Imam Ahmad bin Hambal berkata:
             ‘’Muhammad bin Hasan berkata,aku mendengar Sufyan bin Uyainah berkata,ketika orang-orang saleh dikenang maka rahmat Allah akan turun’’.[3]

B.       HUBUNGAN ISLAM ASWAJA DAN POLITIK DI ZAMAN SEKARANG
Pada kenyataannya sejarah menunjukkan bahwa islam diyakini kebenarannya telah membantu para pemeluknya memahami realitas kehidupan,sehingga realitas dapat sebagai subjek yang memberi corak dalam perubahan dan dinamika bagi islam zaman sekarang.
Hubungan antara agama dan politik dimasa sekarang ini dapat dilihat dan diamati dari kedudukan agama dan perannya dalam kehidupan masyarakat.
Fikrah ASWAJA An-Nahdliyah Di Zaman Sekarang
Perjalanan waktu membawa NU berinteraksi dengan organisasi-organisasi lain yang memiliki karakter dan cara berpikir yang berbeda.Akibatnya warga NU banyak yang kehilangan identitas ke-NU-annya.Banyak orang yang secara formal masih mengatasnamakan warga nahdliyin,tetapi cara berpikirnya tidak lagi mencerminkan karakteristik NU.Oleh karena itu,untuk menjaga nilai-nilai historis dan tetap meneguhkan NU pada garis-garis perjuangannya.
Dalam merespon persoalan yang berkenaan dengan agama maupun kemasyarakatan NU memiliki manhaj[4] ASWAJA sebagai berikut:
a.         fikrah tawasuthiyyah(pola pikir moderat) artinya NU senantiasa bersikap tawazun(seimbang)dan i’tidal(moderat)dalam menyikapi berbagai persoalan.
b.         fikrah tasamuhiyyah(pola pikir toleran)artinya NU dapat berdampingan secara damai dengan pihak yang lain walaupun akidah,cara berpikir dan budayanya berbeda.
   
C.      ISU ASWAJA PADA ZAMAN MODEREN
Dalam  kamus besar bahasa Indonesia isu berarti desas-desus atau masalah untuk di tanggapi.Sedangkan kontemporer berarti masa kini.Jadi,isu kontemporer ASWAJA adalah masalah mengenai Ahlussunnah Wal Jama’ah untuk di tanggapi saat ini.Di antara isu-isu kontemporer tersebut ada 4 macam yang berkaitan dengan Ahlussunnah Wal Jama’ah saat ini,antara lain:
1.    ASWAJA dan Sekularisme
Sekularisme adalah sesuatu hal yang bersifat duniawi atau kebendaan[5].Jadi sekularisme adalah pemikiran yang memisahkan agama dari kehidupan.Agama hanya urusan ibadah yang terkait kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Karena itulah,selayaknya kita menghadang laju sekularisme dan agen-agen komersialnya dengan menancapkan interpretasi bahwa sejarah adalah bagian dari islam yang punya spesifik selalu relevan dan dinamis mengikuti peradaban manusia.Sentral pendidikan diharapkan bisa melahirkan kader pemikiran islam yang komprehensif.[6]

2.    ASWAJA dan Kapitalisme
Kapitalisme atau kapital adalah suatu paham yang meyakini bahwa pemilik modal bisa melakukan usahanya untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya.
Sistem ekonomi islam memiliki pandangan bahwa seluruh harta yang ada di dunia ini sesungguhnya milik Allah SWT,berdasarkan firman Allah yang berarti: ‘’Dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakannya kepadamu’’(QS.An-Nur.33).
Dari ayat tersebut dapat di pahami bahwa harta yang diberikan Allah kepada manusia adalah merupakan pemberian dari Allah yang dikuasakan kepadanya.

3.    ASWAJA dan Liberalisme
Dalam kamus besar bahasa Indonesia liberalisme berarti satu aliran ketatanegaraan dan ekonomi yang menghendaki demokrasi dan kebebasan pribadi.
Paham liberal adalah paham yang memahami nash-nash agama(al-Qur’an dan as-Sunnah)dengan menggunakan akal pikiran yang bebas[7]. Secara sistematis,liberalisasi islam di Indonesia yang sudah dijalankan sejak awal tahun 1970-an,dilakukan serempak melalui tiga bidang penting dalam sejarah islam,yaitu:[8]
a)         Liberalisasi bidang akidah
Liberalisasi akidh islam dilakukan dengan menyebarkan paham pluralisme agama.Jadi menurut penganut paham ini,semua agama adalah jalan yang berbeda menuju Tuhan yang sama.Mereka menyatakan,bahwa agama adalah persepsi relatif terhadap Tuhan yang mutlak.Setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim atau meyakini bahwa agamanya sendiri yang paling benar.
Kaum muslimin telah sepakat untuk bersaksi bahwa tidak ada yang haq kecuali Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah.Sedangkan apapun yang telah diketahui oleh seorang muslim dan dia mantab terhadapnya,berarti dia telah merasa yakin dengannya,bahwa Allah berkuasa atas apa yang dia kehendaki.[9]

b)        Liberalisasi konsep wahyu al-Qur’an
Liberalisasi islam tidak akan lengkap jika tidak menyentuh aspek al-Qur’an.Maka dari itu  Ahlussunnah Wal Jama’ah mengajarkan bahwa al-Qur’an adalah kalamullah,bahwa al-Qur’an adalah satu-satunya kitab suci yang bebas dari kesalahan.

c)         Liberalisasi bidang syari’ah
Liberalisasi ini menggunakan penyimpangannya,seperti mengharamkan maulid Nabi SAW,sholawatan,zarah kubur,dan lain-lain.



4.    ASWAJA dan Pluralisme
Menurut istilah,pluralisme adalah keadaan masyarakat yang majemuk(bersangkutan dengan sistem sosial dan politiknya),baik dalam agama islam sendiri maupun agama selain islam.Hal ini memunculkan sikap toleransi terhadap agama lain.
Namun situasi di zaman moderen ini menganggap pluralisme memberi pemahaman bahwa pada dasarnya semua agama adalah sama,sama-sama mengajak kebaikan dan melarang kejahatan.
Islam menjamin hak beragama(agama samawi yang memiliki kitab suci)seperti yang teraebut dalam surat al-Baqoroh ayat 256 ”Laa Ikrooha Fiddiin”yang artinya: ”tidak ada paksaan dalam(menganut)agama”.Tetapi toleransi itu sebatas pengakuan,tidak sampai pada keyakinan bahwa semua agma sama-sama menuju kebenaran.[10]
Jadi fanatisme agama adalah naluri manusia yang tidak bisa di pungkiri,sebab ketika kita sudah masuk suatu agama pasti yakin inilah yang benar.Sesuai paham pluralisme,maka semua agama harus didudukkan pada posisi yang sejajar,tidak boleh ada yang mengklaim lebih tinggi,lebih benar,atau lebih benar sendiri.[11]










BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
 Islam ASWAJA di zaman modern ini memiliki banyak kaitan atau hubungan dengan tradisi islam maupun yang lain,diantaranya mulai dari tradisi islam,politik,budaya,dan organisasi-organisasi masyarakat,seperti Nahdlatul Ulama’ dan lainnya.Dan di zaman moderen ini ASWAJA memiliki banyak aliran,dan yang terpenting kita harus menjaga iman agar tidak terpengaruh dengan aliran lainnya.
Demikian yang bisa saya sampaikan,dari hasil makalah ini,kami sebagai penyusun makalah ini tentunya masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan.Dan akhir kata,kami sebagai pemakalah mohon maaf apabila terdapat banyak kesalahan.













DAFTAR PUSTAKA

Al-Imam al-Hafidz Abu Nu’aim.Hilyah al-Auliya
Fatwa Munas VII Majelis Ulama Indonesia.
Ibnu Taimiyah Syeikhul Islam.Januari 2002.Kaidah Ahlussunnah Wal Jamaah.Penerbit At-tibyan Solo.
Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Najih Maimoen H.Muhammad. 6 shafar 1431 H. Ancaman Liberalisme.Salafy-Wahabi.Sekularisme Terhadap Eksistensi Ahlussunnah Wal Jama’ah.Penerbit: Al-Anwar Semarang.
Siraj Said Aqil.Membumikan ASWAJA pegangan guru NU,Yogyakarta:Khalista.2012.
Syafi’I  Ma’arif,Ahmad.Membidik NU,gama media.2001.
Najib Burhani Ahmad,Islam dinamis,Jakarta.2001.




RELEFANSI ASWAJA DAN ISU-ISU DI ZAMAN MODEREN
Makalah ini Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah             : Penulisan Karya Ilmiah
Dosen Pengampu     : A. Sihabul Millah, M.A


 














Disusun oleh :
MA’MUNUDDIN (10.13.736)



JURUSAN TARBIYAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI ILMU AL-QUR’AN AN-NUR
YOGYAKARTA
2013



[1] Said Agil Siraj,Membumikan ASWAJA,Pegangan Guru NU,Yogyakarta,Penerbit:Khalista.2012.
[2] Syaikh Ibnu Taimiyah,Iqtida’ al-Shirat al-Mustaqim,Penerbit:At-Tibyan Solo,hlm.297.
[3] Al-Imam al-Hafidz Abu Nu’aim,Hilyah al-Auliya,juz 7,hlm.285.
[4]Manhaj adalah jalan yang akan menghantarkan kepada pengenalan hakekat ilmu melalui kaidah-kaidah umum yang dapat menjaga jalannya akal .
[5]Kamus Besar Bahasa Indonesia.
[6]H.Muh Najih Maimoen,Ancaman Librralisme,Salafi-Wahhaby.Sekularisme Terhadap Eksistensi Ahlussunnah Wal Jama’ah,Penerbit:al-Anwar Serang.6 Shafar 1431 H.hlm.98
[7] Fatwa Munas VII Majelis Ulama Indonesia
[8] H.Muh Najih Maimoen,. Ancaman Liberalisme Salafy-Wahaby.Sekularisme Terhadap Eksistensi Ahlussunnah Wal Jama’ah,Penerbit:al-Anwar Serang.6 Shafar 1431 H.hlm 10
[9] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,Kaidak Ahlussunnah Wal Jama’ah.(At-Tibyan Solo:Januari 2002),hlm.42
[10] H.Muh Najih Maimoen,Ancaman Liberalisme,Salafy-Wahhaby,Sekularisme terhadap Eksistensi Ahlussunnah Wal Jama’ah.Penerbit:al-Anwar Serang.6 Shafar 1431 H,hlm.14
[11]H.Muh Najih Maimoen,Ancaman Liberalisme,Salafy-Wahhaby,Sekularisme terhadap Eksistensi Ahlussunnah Wal Jama’ah,Penerbit:al-Anwar Serang.6 Shafar 1431 H.hlm.21

Tidak ada komentar:

Posting Komentar