Rabu, 13 November 2013
RASIONALISME (Filsafat berbasis akal)
Rasionalisme (Filsafat Berbasis Akal)
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah :
Filsafat Umum
Dosen Pengampu : Drs. Ruba’i,M.Pd
Disusun Oleh :
Muhammad Tamyiz (13.10.743)
PROGRAM TAHSIR HADITS
SEKOLAH TINGGI ILMU AL QUR’AN AN NUR BANTUL
YOGYAKARTA
2013
BAB I
PENDAHULUAN
RASIONALISME
Aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Manusia, menurut aliran ini memperoleh pengetahuan melalui kegiatan akal menangkap obyek. Orang mengatakan bapak aliran ini ialah Rene Descrates (1596-1650) ini benar, akan tetapi, sesungguhnya paham seperti ini sudah ada jauh sebelum itu. Orang-orang Yunani kuno telah meyakini juga bahwa akal adalah alat dalam memperoleh pengetahuan yang benar, lebih-lebih pada Aristoteles.
Rasionalisme tidak mengingkari kegunaan indera dalam memperoleh pengetahuan, pengalaman indera diperlukan untuk merangsang akal dan memberikan bahan-bahan yang menyebabkan akal dapat bekerja.akan tetapi untuk sampainya manusia pada kebenaran adalah semata-mata dengan akal.
Kerjasama empirisme dan rasionalisme atau rasionalisme dan empirisme inilah yang melahirkan metode sains (science, method), dan dari metode inilah lahirlah pengetahuan sains ( scientific knowledge) yang dalam bahasa Indonesia sering disebut pengetahuan ilmiah atau ilmu pengetahuan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Bapak Descartes “cogito ergo sum”
Rene Descartes lahir di kota La Haye Totiraine, Perancis pada tanggal 31 Maret tahun 1596 M. Dalam literatur berbahasa latin dia dikenal dengan Renatus Cartesius. Rene Descartes selain merupakan seorang filosof, dia juga seorang matematikawan Perancis. Beliau meninggal pada tanggal 11 februari 1650 M di Swedia di usia 54 tahun. Kemudian jenazahnya dipindah ke Perancis pada tahun 1667 M dan tengkoraknya disimpan di Museum D’historie Naturelle di Paris.
Rene Descartes dikenal sebagai Bapak Filsafat Modern. Menurut Bertnand Russel, memang benar. Gelar itu diberikan kepada Descartes karena dialah orang pertama pada zaman modern yang membangun filsafat yang berdiri atas keyakinan diri sendiri yang dihasilkan oleh pengetahuan rasional. Dialah orang pertama pada akhir abad pertengahan yang menyusun argumentasi yang kuat yang dictinct, yang menyimpulkan bahwa dasar filsafat adalah akal, bukan perasaan, bukan iman, bukan ayat, serta bukan yang lainnya. Disamping seorang tokoh rasionalime, Descartes pun merupakan seorang filsuf yang ajaran filsafatnya sangat populer, kerna pandangannya yang tidak pernah goyah, tentang kebenaran tertinggi berada pada akal atau rasio manusia. Rene Descartes seorang filsuf yang tidak puas dengan filsafat Skolastik yang pandangan-pandangannya saling bertentangan, dan tidak ada kepastian disebabkan oleh miskinya metode berfikir yang tepat. Descartes mengemukakan metode baru yaitu metode keragu-raguan. Jika orang ragu terhadap segala sesuatu, dalam keragu-raguan itu, jelas ia sedang berfikir. Sebab, yang sedang berfikir itu tentu ada dan jelas terang-benderang.Cogito ergo sum (saya berfikir, maka saya ada).
Rasio merupakan sumber kebenaran. Hanya rasio sajalah yang dapat membawa orang paa kebenaran. Yang benar hanyalah tindakan akal yang terang benderangyang disebutnyaIdeas Claires el Distinces (pikiran yang terang benderang dan terpilah-pilah). Idea terang benderang ini pemberian tuhan sebelum orang dilahirkan (ida inate : ide bawaan). Sebagai pemberian Tuhan, maka tak mungkin tak benar.
Begitu juga tentang metode cara menemukan kepastian yag ia kemukakan dalam ungkapan Cogito ergo sum ( saya berfikir, maka saya ada). Selain itu juga tentang pendapat Descares yang mengatakan bahwa roh pada jiwa pada hakikatnya berbeda dengan benda. Sifat asasi roh adalah pemikiran, sedang asasi benda adalah keluasan. Kemudian pokok pemikiran descartes adalah ” Cogito ergo sum”
Cogito Ergo Sum atau yang lebih dikenal dengan “aku berfikir maka aku ada” merupakan sebuah pemikiran yang ia hasilkan melalui sebuah meditasi keraguan yang mana pada awalnya Descartes digelisahkan oleh ketidakpastian pemikiran Skolastik dalam menghadapi hasil-hasil ilmu positif renaissance. Oleh karena itu untuk memperoleh kebenaran pasti Descartes memepunyai metode sendiri. Itu terjadi karena Descartes berpendapat bahwa dalam mempelajari filsafat diperlukan metode tersendiri agar hasil-hasilnya benar-benar logis.
Cogito dimulai dari metode penyangsian. Metode penyangsian ini dijalankan seradikal mungkin. Oleh karenanya kesangsian ini harus meliputi seluruh pengetahuan yang dimiliki, termasuk juga kebenaran-kebenaran yang sampai kini dianggap pasti (misalnya bahwa ada suatu dunia material, bahwa saya mempunyai tubuh, bahwa tuhan ada). Kalau terdapat suatu kebenaran yang tahan dalam kasangsian yang radikal itu, maka itulah kebenaran yang sama sekali pasti dan harus dijadikan fundamen bagi seluruh ilmu pengetahuan. Dan Descartes tidak dapat meragukan bahwa ia sedang berfikir. Maka, Cogito ergo sum: saya yang sedang menyangsikan,ada. Itulah kebenaran yang tidak dapat disangkal, betapa pun besar usahaku. Jadi, hanya yang saya mengerti dengan jelas dan terpilah-pilah harus diterima sebagai benar. Itulah norma untuk menentukan kebenaran.
B. Tokoh-tokoh Rasionalisme : Leibniz, Spinoza
a. G.W. Leibniz
Gottfried Wilhelm Leibniz (1646-1716) adalah seorang berkebangsaan Jerman, tetapi ia menulis karya-karyanya dalam bahasa Latin dan Perancis. Ia adalah seorang sarjana ensiklopedis yang menguasai seluruh lapangan pengetahuan yang dikenal waktu itu. Menurut Leibniz terdapat banyak substansi, yang jumlahnya tak terhingga. Ia menamakan substansi sebagai “Monade”. Menurut dia monade-monade tidak bersifat jasmani dan tidak dapat dibagi-bagi. Jiwa merupakan suatu monade, tetapi juga materi terdiri dari banyak monade.
Dalam suatu kalimat yang kemudian terkenal ia mengatakan: “Monade-monade tidak mempunyai jendela-jendela, tempat sesuatu bias masuk atau keluar.” Itu berarti bahwa semua monade harus dianggap tertutup, sebagimana “cogito”, atau kesadaran yang hanya mengenal dirinya dan idea-idea yang ada padanya sedangkan yang lainnya dikenal secara tidak langsung melalui idea-idea tersebut.
b. Spinoza
Baruch De Spinoza (1632-1677) lahir di Amsterdam. Orang tuanya adalah orang Yahudi yang berpindah dari Portugal ke Belanda. Ia sangat mengutamakan kebebasan pemikiran, juga dalam bidang agama. Oleh karena itu ia dikucilkan dari umat Yahudi dan harus meninggalkan kota Amsterdam. Bukunya yang paling penting “Ethica, ordine geometrico demonstrate (Etika yang dibuktikan dengn cara gemetris)” baru diterbitkan setelah ia meninggal.
Menurut Spinoza hanya ada satu substansi, yaitu Allah. Dan satu substansi itu meliputi baik dunia maupun manusia. Itulah sebabnya pendirian Spinoza ini disebut panteisme, Allah disamakan dengan segala sesuatu yang ada. Ia beranggapan pula bahwa satu substansi itu mempunyai ciri yang tak terhingga jumlahnya dan setiap ciri mengekspresikan hakekat Allah seluruhnya. Tetapi kita hanya mengenal dua ciri saja: pemikiran dan keluasaan.
Pada manusia, kedua ciri tersebut terdapat bersama-sama pemikiran (jiwa) dan serentak juga keluasaan (tubuh). Karena itulah buat Spinoza tidak lagi sesuatu persoalan mengenai hubungan jiwa dengan tubuh, karena jiwa dan tubuh hanya merupakan dua aspek yang menyangkut substansi yang sama. Sebenarnya tidak pernah dalam sejarah filsafat kesatuan manusia begitu sangat ditekankan seperti pada Spinoza.
C. Pengetahuan menurut rasionalisme
Dalam pembahasan tentang suatu teori pengetahuan, maka Rasionalisme menempati sebuah tempat yang sangat penting. Paham ini dikaitkan dengan kaum rasionalis abad ke-17 dan ke-18, tokoh-tokohnya ialah Rene Descartes, Spinoza, leibzniz, dan Wolff, meskipun pada hakikatnya akar pemikiran mereka dapat ditemukan pada pemikiran para filsuf klasik misalnya Plato, Aristoteles, dan lainnya. Paham ini beranggapan, ada prinsip-prinsip dasar dunia tertentu, yang diakui benar oleh rasio manusi. Dari prinsip-prinsip ini diperoleh pengetahuan deduksi yang ketat tentang dunia. Prinsip-prinsip pertama ini bersumber dalam budi manusia dan tidak dijabarkan dari pengalaman, bahkan pengalaman empiris bergantung pada prinsip-prinsip ini. Prinsip-prinsip tadi oleh Descartes kemudian dikenal dengan istilah substansi, yang tak lain adalah ide bawaan yang sudah ada dalam jiwa sebagai kebenaran yang tidak bisa diragukan lagi. Ada tiga ide bawaan yang diajarkan Descartes, yaitu:
1. Pemikiran; saya memahami diri saya makhluk yang berpikir, maka harus diterima juga bahwa pemikiran merupakan hakikat saya.
2. Tuhan merupakan wujud yang sama sekali sempurna; karena saya mempunyai ide “sempurna”, mesti ada sesuatu penyebab sempurna untuk ide itu, karena suatu akibat tidak bisa melebihi penyebabnya.
3. Keluasaan; saya mengerti materi sebagai keluasaan atau ekstensi, sebagaimana hal itu dilukiskan dan dipelajari oleh ahli-ahli ilmu ukur.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari apa yang telah kami uraikan diatas maka kami dapat menyimpulkan sebagai berikut:
1. Rasionalisme adalah paham yang mengangap bahwa pikiran dan akal merupakan dasar satu-satunya untuk memecahkan kebenaran lepas dari jangkauan indra
2. descartes, spinoza dan Leibniz mereka adalah tokoh besar dalam filsafat rasionalisme.
3. Resionalisme ada dua macam: dalam bidang agama dan dalam bidang filsafat. Dalam bidang agama rasionalisme adalah lawan autoritas. Dalam bidang filsafat rasionalisme adalah lawan empirisme.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Tafsir,Filsafat Umum,Bandung,PT Remaja Rosdakarya,2000.
Asmoro Achmad,Filsafat Umum,Jakarta,PT RajaGrafindo Persada,1995.
http://www.academia.edu/4132542/Rasionalisme
http://adipustakawan01.blogspot.com/2013/06/rasionalisme-dan-empirisme.html
http://research.amikom.ac.id/index.php/AKM/article/view/719
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar